Belum lagi masalah pendidikan di Inonesia Raya tercinta yang begitu kompleks. Kini hadir pula semacam instruksi bahwa orang tua tidak harus menyekolahkan anaknya jika merasa khawatir, dan hari libur/Belajar di rumah juga masih di perpanjang dengan anjuran agar siswa memiliki smartphone untuk melancarkan proses belajar yang dulu namanya belajar mengajar.
jika dikaitkan dengan ekonomi masyarakat, sebagian masih ada yang belum mampu untuk membelikan smartphone untuk memperlancar belajar tersebut.
Akhir akhir ini ada bantuan dari pemerintah berupa Bansos Dan BLT dengan masing masing kriteria yang berhak mendapatkan uang senilai Rp. 600.000 Per bulan, per KK bukan 2 orang dalam 1 KK, sedikit dikaitkan ke kebutuhan sembako, juga masih jauh dari kata cukup.
Jika orang tua mempunyai inisiatif mengalihkan sebagian bantuan tersebut untuk membeli smarthone, juga masih belum cukup ini hanya bagi orang tua yang memiliki 1 siswa. bagaimana jika 2, 3, Dst.?
memang ini bukanlah alasan untuk mengumpat kepada pemerintah, tapi ini adalah buah pikiran orang tua yang menyekolahkan anaknya, yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Ini juga masih sebatas membeli smartphone dan jaringannya demi menunjang suksesnya belajar dirumah tersebut.
belum lagi masalah malas, peluang pembodohan, waktu orangtua, dan kecanduan siswa agar terus diliburkan.
Lalu?
Kemana lagi arah pendidikan ini akan bermuara?.
0 Komentar