Dalam perjalanan menuju kota Medan yang mungkin melelahkan itu, masih saya sempatkan untuk makan terlebih dahulu, meskipun ragu akan menyebabkan mual atau pun sakit kepala. Karena dalam beberapa kasus perjalanan biasanya saya sakit kepala karena makan dalam perjalanan.
Namun, berkat seorang Ibu paruh baya yang duduk di ACC dan tepat di samping saya itu, dan karena cepat berbaur pula dengan suasana perjalanan yang dingin-dingin tipis. Alhamdulillah mual dan sakit kepala itu enggan dengan saya dalam perjalanan malam itu. Hampir semalam suntuk kami selingi dengan ngobrol panjang lebar seperti di podcast-podcast YouTube, ceritanya pun sampai ke kota Jambi, padahal mau ke Medan. selang waktu berlalu ternyata kami sudah sampai di Balige, Kabupaten Toba.
Sepanjang perjalanan dari Sidempuan ke Balige, banyak cerita persoalan hidup yang saya dapatkan dari ibu ini, dan ada pula beberapa yang terngiang di benak saya sampai hari dimana cerita singkat ini saya tulis dan publish.
Salah satunya yang ibu ini ceritakan adalah tentang suaminya yang begitu gemar mengolah angka menjadi angka keberuntungan, kerap kita sebut "togel" dan saya kira ini bisa jadi bahan pelajaran buat kita dimasa yang akan datang.
Dimana pada suatu waktu suami ibu ini pulang dari kedai kopi yang tak jauh dari rumah mereka kira-kira 3 menint jalan kaki, dengan wajah yang sedikit terlihat kusam. Mungkin belum beruntung dan ingin mencoba lagi, terlebih dihantui rasa penasaran yang naik ke ubun-ubun. setibanya dirumah dan langsung masuk kedalam kamar ia melihat anaknya sudah tertidur pulas dan mungkin dengan mimpinya yang akan indah di masa depan, dan tepat disamping istrinya yang sedang sigap dan tenang mengintai arah pergerakan nyamuk agar tak hinggap di tubuh mungil putri tercinta mereka, yang masih mengenyam Pendidikan kelas 4 (SD)Sekolah Dasar itu.
Dengan lembut dan nada merayu suami ibu tersebut, meminta agar istrinya menanggalkan anting emas yang menggantung di telinga putri mereka.
"Mangido tolongma, Buatkon jolo atting ni sibutet i bah" (minta tolong, tanggalkan dulu anting putri kita itu). sontak, ibu ini pun terkejut, "ha??" bia nimmu? (Gimana katamu?) Dengan nada kaget dan raut wajah yang terlihat dongkol. "Binaha mu i?" (untuk apa sama kamu?) Tanya si ibu lagi.
"Alah,! patenang ma disi, hugatti doi naron potang" (alah,,! Tenanglah nanti malam akan saya ganti) meyakinkan si ibu, tapi karena si ibu ini tidak mau mengikuti perintah suaminya karena ia rasa itu sudah salah, suami ibu itu pun menanggalkan sendiri anting emas anak mereka sampai anak mereka sedikit terganggu di tidur lelapnya. sangkin tidak habis pikir si ibu seakan tidak sadar bahwa itu adalah suaminya, tampa sedikitpun rasa iba atau bersalah, suami pun bergegas meninggalkan istri dan anaknya itu.
Karena merasa telah disakiti oleh sang suami dan membuat perasaan sangat dongkol, ibu ini bergegas pergi ke kedai kelontong yang sedikit lebih jauh dari tempat suaminya bermain togel, juga berbeda arah, si ibu pun membeli setengah bungkus rokok. Mulai dari kedai tersebut sampai kerumahnya silih berganti rokok itu habis dihisap oleh bibir nya yang sedikit gemetar itu sembari berpikir panjang antara sang suami ia tinggalkan atau tetap dipertahankan. namun pada puncaknya, keputusan itu pun ia ambil dan memutuskan bahwa suaminya itu akan ia tinggalkan serta merta dengan anaknya yang masih tertidur lelap itu.
Keesokan paginya ternyata suaminya sudah pusing tujuh keliling mencari istrinya yang sudah pergi, namun akhirnya ia sadar. dalam pikirannya bahwa istrinya pasti berada di terminal karena ia tahu istrinya hanya punya saudara di kota Jambi. benar saja, bahwa ibu itu memang ada diterminal, tapi suaminya tidak kunjung melihat istrinya, sebaliknya malah si ibu yang melihat suaminya panik bertanya sana sini, dan tak seorang pun melihatnya, apalagi masa itu teknologi belum secanggih saat ini, menambah kesulitan dalam pencarian karena tidak ada foto dan nomor telpon yang bisa di hubungi, disamping itu, meskipun si ibu melihat dengan jelas suaminya, tapi ia tidak perduli seakan ia tidak kenal lelaki tua itu.
Itu juga hari terakhir si ibu melihat suaminya masih menghela nafas dan sampai sang suami beristri, beranak kembali dan bahkan sampai si suami meninggal dunia, mereka tidak berjumpa lagi. Ternyata kejadian si suami main olah angka bukan hanya sekali itu saja, mungkin ibu itu berpikur ibarat ni baro on ma bukkasna (ibarat bisul inilah saatnya pecah).
Terakhir saya tanya, "adakah penyesalan yang ibu rasakan setelah kejadi itu?" "ada" jawabnya lansung, rasa sesal saya hanya karena saya ceroboh telah meninggalkan anak saya, bukan menyesal karena meninggalkan suami saya.
.jpeg)
0 Komentar